Dalam ketermenungan ada harap yang berbisik melalui resonansi suara tanpa ada riuh ataupun gemuruh yang tersentuh, bahkan terhantar sangat teduh tanpa keluh. Ketika pikiran menerimanya tanpa ada gelombang yang terhubung dengan impuls-impuls saraf yang akan menjadikannya hantaran listrik dalam sebentuk energi, untuk di jadikannya sebuah tindakan tetaplah ia tidak terwujud dalam sebuah kebermanfaatan.
Dalam ketermenungan perlu berbenah diri dalam setiap pergantian waktu, akan nikamtnya yang kadang lupa kita syukuri, ibadah yang tak dengan hati, ucapan yang memurkai, tindakan yang tidak terpuji ataukah keikhlasan dan niatan diri dalam menjalani kehidupan yang tidak karena mengharap ridho illahi.
Entah apa yang sedang di rasa, yang pasti aku hanyalah ingin memendarkan warna untuk menghiasi jingga dikala senja tiba, agar ia tetap mempesona dengan cahanyanya yang memberikan sejuta keindahan tak menyudah.
“
Khoirunnas Angfauhum Linnas ”
Bandung, 06 April 2013
Originally by : Alvi Galvitri
Originally by : Alvi Galvitri