My First Hijab
Ukiranpun
kian menerka dalam cerita , seakan pernah terekam dalam dalam kenyataan, bahwa
artinya adalah kisah yang penuh hikmah...
Gemapun
kian terekam dalam ingatan tanpa ada tekanan yang menikam ataupun paksaan,
tetapi kedamaian dan ketenanganlah yang terjerembab di relung angan
menunmbuhkan kemahadayaan.
Kesejukannyapun
menusuk hingga kesukma, menyeruak melalui sel-sel yang menciptakan kehidupan, memasuki
komponen-komponen darah yang memberiakn
kekuatan mempertahankan imaji penuh keyakinan.
Perasaan
itu yang aku rasakan ketika aku mulai memasuki mesjid dan mengambil air wudhu, walaupun
aku udah beberapa bulan menjalani perkuliahan di kampus , tapi baru kali ini
aku memasukinya, itupun karena salah satu temanku Nisa namanya, mengajkku untuk mengantarnya ke
mesjid itu. Kaki ini pun mulai melangkah untuk mendirikan sholat , entah kenapa
ketenangan itu semakin nyata dan terasa, seakan akupun sebenarnya malu kerena
hanya aku yang tidak berkerudung di mesjid itu.
“ tri , kita ikutan sholat
berjamaah yuu,,” ajak nisa sambil menyodorkan mukena berwarna putih yang ada di
tangannya.
“iya hayu cha, aku ikut”
Sholat
berjamaah aku lakukan dengan penuh kekhusuan maghrib itu, karena aku pernah tau
bahwa yang namanya sholat berjamaah itu pahalanya lebih besar dibandingkan
dengan shalat sendiri. Walaupun di hari-hari biasanya aku sangat malas untuk
sholat berjamaah, solanya aku ngerasa sholat berjamaah itu terlalu lama.
Sujud
demi sujud ku lakukan dengan penuh kekhusuan, seperti mengahantarkanku pada
ketenangan yang jarang aku rasakan sebelumnya, bahkan entah kenapa kali ini
semuanya terasa begitu berbeda. Kehadiran Alloh itu kurasakan begitu dekat,
memenjarakanku dalam cintaNYA yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
“Dan tegakanlah Sholat
untuk mengingatku”
dalam ayat-ayat yang merdu, dalam setiap ruku dan sujud yang syahdu, dalam
kemesraan dengan hati merindu.
Subhanalloh... semuanya terasa begitu istimewa, dan aku sangat mesyukuri
nikmatMU.
Sesudahnya
sholat berjamaah maghrib, akupun kembali merasakan kedamaian itu. Ketika
semuanya berjabat tangan dengan penuh kehangatan sesama muslimah, dan saling
mendo’akan antara satu dengan yang lainnya. Hal demikian, adalah yang jarang
sekali aku rasakan dan bahkan butuh rentan waktu yang lama untuk bisa
merasakannya kembali.
“ tri, kenpa kamu terdiam
seperti itu? “ nisa pun merasa heran karena melihatku setengah melamun seolah
sedang memikirkan sesuatu,”
“ cha, aku mau nanya sesuatu
sama kamu boleh? “
“tentu saja boleh, ada apa
tri” ucapan itu keluar sekan memberikan nada mengayomi dengan penuh kelembutan.
“ sejak kapan kamu mulai
memakai kerudung cha”?
Pertanyaan
itu terlontar dengan ringan, seakan penuh kepasrahan karena kekagumanku melihat
nisa yang begitu istiqomah mengenakan jilbab nya.
“ Sejak aku mulai akhil
baligh tri”
“kenapa harus pas mulai
akhil baligh cha, kirain aku kamu mulai
pakai jilbab sejak kecil”
“Dari kecil aku mulai
memakai jilbab tri, tapi masih hanya
sebatas kalau ada pengajian aja. Setelah akhil baligh aku mulai memutuskan
untuk istiqomah berjilbab dan tidak hanya pas ada pengajian saja”.
“ kenapa harus pas akhil
baligh kamu memulainya” tegas ku karena masih penasaran dengan pernyataan yang
dilontarkan nisa.
“kerena ketika seorang
perempuan mulai akhil baligh, perempuan itu mulai yang namanya menstruasi salah
satu cirinya. Segala dosa dan amalannya itu mulai dicatat oleh malaikat dan
ditanggung olehnya sendiri, jadi sudah tidak ada toleransi lagi untuk melanggar
segala ketentuan yang telah ditetapkan kepada seorang perempuan” jelas nisa sambil mengarahkan tatapannya ke
arahku.
“ tapi kamu merasa nyaman
dengan jilbab itu?”
“ aku sangat nyaman sekali
dengan jilbab ini tri, dan ini sudah merupakan kewajiban bagi kita sebagai
seorang muslimah untuk berjilbab. Alloh SWT pun sudah menjelaskan dalam
Al-Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 59:
“Wahai Nabi, katakanlah
kepada istri-istrimu,anak perempuanmu, dan istri-istri orang mu’min. ” Hendaklah
mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka” yang demikian itu agar
mereka mudah dikenali, sehingga mereka tidak diganggu.Dan Alloh Maha Pengampun
Maha Penyayang”
Rosulullohpun akan
berbangga bila kita mengikuti anjurannya meneladani wanita-wanita yang terjanji
disurga.” .
Kata-kata
dari nisa seakan membisukan ku untuk tidak bisa mengelak lagi akan nikmat Alloh
SWT ini, ingin rasanya aku bisa berjilbab seperti nisa, tapi aku merasa belum
siap.
“kenapa kamu melontarkan
pertanyaan itu tri” keheranan nisa mulai
terucap karena beberapa pertanyaan tadi.
“ aku ingin bisa berjilbab
cha, tapi aku masih belum siap”
“ Alhamdulillahi Robbil Alamin...hal apa yang
membuat kamu belum siap tri? “
“ aku belum siap dengan
sikap, kelkuanku yang seperti ini dan aku belum siap dengan sikap temen-temen
dan orang tua akupun pasti bakal ngerasa aneh bila aku memakai kerudung cha”
“
Kesiapan itu pasti akan kamu dapatkan seiring kamu mulai memakai jilbab trii,
Hijabbi penampilan sesuai perintah illahi, inner beauty terpancar seiring
terhijabinya hati. Engga trii,
insyaalloh orang tua kamu pasti akan sangat senang melihat kamu
berjilbab Karena ayahhanda dan ibunda kita mengharap kita
shalehah, meringankan timbangan amal agar kelak masuk Jannah”.
“ bakalan pantes gak yahh
cha kalau aku pake kerudung?, kalau para lelaki dan temen-temen yang lain
merasa aneh dengan aku berkerudung gimana cha?”
tegasku karena aku masih merasa belum yakin kalau semuanya akan
baik-baik saja kalau aku hendak berjilbab.
“
Karena fitrahnya pria tetaplah lebih teduh melihatmu yang terhijabi bukan yang
auratnya dibuka sana sini. Karena fitrahnya pria mengharapkan istri yang tak
terjamah bukan yang bisa disentuh sana sini dengan mudah. Kamu
tidak usah menghawatirkan akan hal itu trii, karena Alloh SWT pasti akan
memberikan kemudahan bagi hambanya yang ingin memperbaiki dirinya untuk selalu
bertaqwa dijalanNYA. Pokonya sekarang Sibukanlah
dirimu dengan terus memperbaiki diri, karena ia yang yang tertakdirkan untukmu
adalah cerminan dirimu sendiri.”
Semakin kuat keyakinan itu
menyeruak , membuncah hingga aku mengambil sebuah kesimpulan
“ Insyaalloh mulai sekarang aku ingin
belajar istiqomah memakai jilbab cha”
“ alhamdulillahi robbil
alamin..... aku sangat senang mendengarnya tri,. Insyaalloh pertolongan dan
ampunan Alloh itu sangat dekat tri. Selangkah
kita mendekatinya maka seribu langkah Alloh hendak mendekati kita”
“bantu aku ya cha,,,makasih
udah ngingetin dan nyadarian aku. Berkat kamu membawa aku ke mesjid ini,
seperti ada yang beda dengan perasaan,
dan Alloh SWT menuntun menuju keyakinanNYA ” dengan nada memelas aku memeluk
nisa .
“Karena sudah sepantasnya
sesama muslim kita harus saling mengingatkan tri, “
“ sekali lagi makasih yaa cha, Nikmat Alloh
sangat benar-benar terasa oleh ku malam ini dan Alloh memberikan jalanNYa itu
melalui kamu”
“Fabiayyi aala irobbiku maa
tukadziban “Maka Nikmat Tuhanmu
Yang Mana Yang kamu Dustakan”
Malam
begitu larut dalam kegelapan yang disinari cahaya terang seakan membawaku dalam
sebuah kebahagiaan dan keyakinan.
Yang
ku lihat hanyalah harapan kehidupan yang Alloh SWT berikan pada sepenggal kisah
perjuangan yang penuh kegigihan dan keyakinan.
Melalui seberkas cahaya yang dapat menyinari setiap manusia yang merindukan
Rohman dan RohimNYA,,,
Dan Pagi mulai datang
dengan kebersahajaannya........
Pagi
itu kian bersenandung dalam nyanyian burung yang berdzikir tiada henti akan
NimatNya yang tak terbendung. Pagi ini seperti biasa aku mulai bersiap-siap
untuk berangkat ke kampus, hanya saja mulai hari ini aku akan mulai mengenakan
Jilbab.
“ Bismillahirrohmanirrohim,,,,,,mudah-mudahan
kau selalu memberikan kemudahan itu Ya Alloh...”
Sesampainya
di kampus , orang-orang yang aku kenal ada yang merasa aneh melihatku berjilbab
ada juga yang terkagum melihatku.
“ hahahaha,,,, si tri udah
insyaf,,, paling beberapa hari lagi juga jilbabnya udah di copot lagi”
“ subhanalloh tri, kamu
cantik banget memakai jilbab.mudah-mudahan semakin istiqomah ya tri.
Perasaanku
semakin tak menentu pagi itu, aku yang masih terombang ambing dengan pujian dan
cemoohan yang mereka lontarkan terhadapku. Tanpa terasa adzan dzuhur sudah
berkumandang, dan aku memutuskan untuk pergi ke mesjid untuk mencari
ketenangan, menentramkan perasaan dan keyakinan yang masih terombang ambing
ini.
“astri,,,,,,,”
Tiba-tiba
terdengan seorang perempuan yang memanggilku dan itu arahnya dari belakangku,
serentak akupun memalingkan badanku. Ternyata setelah kulihat itu adalah nisa
yang sama-sama berjalan menuju mesjid.
“Subhanlloh,,, kamu cantik
banget tri. Mudah-mudahan Alloh SWT selalu mengistiqomahkan hati kita dalam
keyakinan dan ketqwaan di jalanNYa ya tri”
Jabatan
tangannya pun mendarat di genggaman tanganku memberikan arti kebersamaan dan
kesatuan langkah menuju surgaNYa.
“ tapi aku kadang masih
merasa terombang ambing dengan semua pujian dan bahkan cemoohan yang orang lain
tujukan terhadapku cha ”
“Alloh
membuat sekenario kebahagiaan seterang mentari, tak boleh sampai lupa diri.
Alloh
juga membuat sekenario sederas hujan, tak boleh sampe buat keterpurukan.
Alloh
membuat keduanya terjadi untuk membuat episode kehidupan kita berwarna secerah
pelangi, trii...”
“subhanalloh,,,, makasih ya
cha, dan apa yang kamu katakan itu benar-benar aku rasakan “
“Uhibbuki Fillah,,,,Bukan
aku benar dan kau salah, tapi Maha benar Alloh dan kita bersama belajar untuk
meraih Ridho dan Maghfirohnya.....”
Bandung, Oktober 2012
Originally Created by :
Alvi Galvitri
Cerpen ini yang aku kirimkan buat ikutan lomaba menulis ceritanya,,,so bgT deh yaa kayanya, kaya yang pinter nulis cerpen aja,,( padahal kalau tulisan2ku yang lain baguss...PD bgt! PLaKK!!! ).
tapi mudah2an kedepannya bisa lebih baik lagi dehhhh ^_* . Amin Ya Robbal Alamin,,,