Selasa, 26 Juni 2012

Opini Kebijakan Menkes Baru ( Kampany Kondom)

Seperti diberitakan sebelumnya, Menkes Nafsiah akan meningkatkan kampanye penggunaan kondom termasuk pada remaja usia 15-24 tahun. Ia berdalih kampanye itu selaras dengan MDGS poin 6 yaitu memerangi HIV/AIDS. Kampanye  ini menjadi penting, meningat masih banyak kasus kehamilan yang tidak direncanakan. Menurutnya, kondisi  saat ini berbeda dengan yang terjadi di lapangan dan UU yang menyatakan, yang belum menikah tidak boleh diberikan kontrasepsi sudah tidak relevan.
(gatra.com 23 Juni 2012)
Miris rasanya melihat kebijakan kampanya penggunaan kondom pada remaja, remaja yang memang dalam kenyataannya adalah harapan bangsa yang akan meneruskan perjuangan bangsa ini. Menurut saya pribadi, hal tersebut hanya berorientasi pada target indikator kesehatan. Target indikator kesehatan yaitu : bagaimana agar kehamilan tidak diinginkan tidak ada, kehamilan karena aborsi dan penderita penyakit kelamin berkurang. Padahal kehamilan dan penyakit kelamin adalah akibat secara medis. Apakah itu akar permasalahnnya? Ataukah pemerintah sudah sedemikian sangat putus asa dan hanya berorientasi pada target yang dimilkin oleh pemerintah semata??
Menkes seolah-olah menjadikan pernyataannya sebagai landasan untuk membuat sebuah kebijakan. Tentunya, kebijakan yang dikeluarkan menkes adalah kebijakan yang bersifat kuratif (pengobatan). Salah satunya dengan mengeluarkan statement bahwa usaha untuk menekan remaja pelaku seksual aktif adalah dengan “melegalkan” kondom. Menkes mungkin lupa, perilaku sosial bisa terjadi karena sebab-akibat. Setidaknya jika menkes berpikir kuratif, maka cara-cara pengendalian sosial lainnya seperti langkah preventifdan rehabilitatif diperlukan. 
Menkes mungkin lupa, jika sejak lama jurnal-jurnal kesehatan meragukan keefektifan kondom sebagai pencegah penyakit HIV-AIDS karena pori-pori virus lebih kecil dibanding kondom. Menkes mungkin lupa, jika dirinya seorang ibu. Maka akan lebih paham kenapa perilaku sosial menyimpang remaja lebih banyak disalurkan di seks bebas, narkoba dan perilaku vandalisme. 
 Menkes mungkin lupa, jika dirinya seorang ibu. Maka akan lebih paham kenapa perilaku sosial menyimpang remaja lebih banyak disalurkan di seks bebas, narkoba dan perilaku vandalisme. Begitulah pertanyaan yang  sepertinya tak luput dari kebijakan MenKes Baru ini. Perilaku menyimpang remaja, memang (salah satunya) bisa bersumber dari keluarga.
“keluarga” ini adalah yang memiliki fungsi afektif dan kasih sayang. Mental dan karakter anak-anak akan terbentuk dari keluarga, lingkungan dan masyarakat sekitar. Begitu juga dengan perkembangan akhlak dan perilakunya. Bagaimana bisa membentuk anak-anak remaja yang akhlak dan perilakunya baik jika setiap hari kasus perceraian meningkat, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) silih berganti menghiasi media, gugatan harta warisan tak hentinya mengisi panggung-panggung rumah tangga Indonesia.
Jika menkes terlalu fokus pada tindakan kuratif, maka dasar permasalahannya tidak akan pernah terselesaikan. Setidaknya menkes fokus pada tindakan preventif dan kuratif. Tindakan preventif tidak saja hanya memberikan ceramah-ceramah ilmiah kepada remaja. Melainkan, pembinaan-pembinaan kepada keluarga-keluarga Indonesia.Keluarga-keluarga harmonis perlu diciptakan. Penciptaan keluarga harmonis itu penting untuk melahirkan anak-anak yang perilakunya tidak menyimpang secara sosial.
Preventif dan kuratif itu perlu difokuskan dan bekerjasama dengan instansi terkait seperti BKKBN. Maka, menkes negara ini tidak saja peka secara nalar ilmiah. Melainkan juga peka dalam nalar sosialnya mengatur kesehatan masyarakat Indonesia.

Menurut saya kondom bukanlah pemecah masalah yang tepat karena tidak menghentikan masalah utama. Menurut saya semua remaja sudah tahu risiko dari free sex , namun karena berbagai sebab mereka tetap melakukannya.
Sama seperti koruptor, sudah tau korupsi dilarang dan berisiko dipenjara, tapi tetap banyak yang melakukan korupsi. Apalagi melakukan free sex  sekarang sepertinya semakin aman dari penyakit dengan adanya kondom. Secara langsung kondom akan meningkatkan frekuensi free sex  di kalangan remaja maupun dewasa yang sudah menikah tapi tak setia.

# Kemajuan bangsa memang tanggung jawab kita bersama, akan tetapi didalam bangsa tersebut ada pemerintah yang mengatur didalamnya, maka dari itu alangkah lebih indahnya apabila pemerintah benar-benar amanah dalam menjalankannya dan memiliki sinergi yang kuat dalam melaksanakan tanggung jawabnya bersama- bersama dengan masyarakat dalam memajukannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar