Kamis, 01 November 2012

First Hijab (cerpen)




My First Hijab

Ukiranpun kian menerka dalam cerita , seakan pernah terekam dalam dalam kenyataan, bahwa artinya adalah kisah yang penuh hikmah...
Gemapun kian terekam dalam ingatan tanpa ada tekanan yang menikam ataupun paksaan, tetapi kedamaian dan ketenanganlah yang terjerembab di relung angan menunmbuhkan kemahadayaan.
Kesejukannyapun menusuk hingga kesukma, menyeruak melalui sel-sel yang menciptakan kehidupan, memasuki komponen-komponen darah yang  memberiakn kekuatan mempertahankan imaji penuh keyakinan.

Perasaan itu yang aku rasakan ketika aku mulai memasuki mesjid dan mengambil air wudhu, walaupun aku udah beberapa bulan menjalani perkuliahan di kampus , tapi baru kali ini aku memasukinya, itupun karena salah satu temanku Nisa  namanya, mengajkku untuk mengantarnya ke mesjid itu. Kaki ini pun mulai melangkah untuk mendirikan sholat , entah kenapa ketenangan itu semakin nyata dan terasa, seakan akupun sebenarnya malu kerena hanya aku yang tidak berkerudung di mesjid itu.

“ tri , kita ikutan sholat berjamaah yuu,,” ajak nisa sambil menyodorkan mukena berwarna putih yang ada di tangannya.

“iya hayu cha, aku ikut”

Sholat berjamaah aku lakukan dengan penuh kekhusuan maghrib itu, karena aku pernah tau bahwa yang namanya sholat berjamaah itu pahalanya lebih besar dibandingkan dengan shalat sendiri. Walaupun di hari-hari biasanya aku sangat malas untuk sholat berjamaah, solanya aku ngerasa sholat berjamaah itu terlalu lama.

Sujud demi sujud ku lakukan dengan penuh kekhusuan, seperti mengahantarkanku pada ketenangan yang jarang aku rasakan sebelumnya, bahkan entah kenapa kali ini semuanya terasa begitu berbeda. Kehadiran Alloh itu kurasakan begitu dekat, memenjarakanku dalam cintaNYA yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.


“Dan tegakanlah Sholat untuk mengingatku”

dalam ayat-ayat yang merdu, dalam setiap ruku dan sujud yang syahdu, dalam kemesraan dengan hati merindu.
Subhanalloh... semuanya terasa begitu istimewa, dan aku sangat mesyukuri nikmatMU.

Sesudahnya sholat berjamaah maghrib, akupun kembali merasakan kedamaian itu. Ketika semuanya berjabat tangan dengan penuh kehangatan sesama muslimah, dan saling mendo’akan antara satu dengan yang lainnya. Hal demikian, adalah yang jarang sekali aku rasakan dan bahkan butuh rentan waktu yang lama untuk bisa merasakannya kembali.

“ tri, kenpa kamu terdiam seperti itu? “ nisa pun merasa heran karena melihatku setengah melamun seolah sedang memikirkan sesuatu,”

“ cha, aku mau nanya sesuatu sama kamu boleh? “
“tentu saja boleh, ada apa tri” ucapan itu keluar sekan memberikan nada mengayomi dengan penuh kelembutan.
“ sejak kapan kamu mulai memakai kerudung cha”?
Pertanyaan itu terlontar dengan ringan, seakan penuh kepasrahan karena kekagumanku melihat nisa yang begitu istiqomah mengenakan jilbab nya.

“ Sejak aku mulai akhil baligh tri”

“kenapa harus pas mulai akhil baligh  cha, kirain aku kamu mulai pakai jilbab sejak kecil”

“Dari kecil aku mulai memakai jilbab tri,  tapi masih hanya sebatas kalau ada pengajian aja. Setelah akhil baligh aku mulai memutuskan untuk istiqomah berjilbab dan tidak hanya pas ada pengajian saja”.

“ kenapa harus pas akhil baligh kamu memulainya” tegas ku karena masih penasaran dengan pernyataan yang dilontarkan nisa.


“kerena ketika seorang perempuan mulai akhil baligh, perempuan itu mulai yang namanya menstruasi salah satu cirinya. Segala dosa dan amalannya itu mulai dicatat oleh malaikat dan ditanggung olehnya sendiri, jadi sudah tidak ada toleransi lagi untuk melanggar segala ketentuan yang telah ditetapkan kepada seorang perempuan”  jelas nisa sambil mengarahkan tatapannya ke arahku.

“ tapi kamu merasa nyaman dengan jilbab itu?”
“ aku sangat nyaman sekali dengan jilbab ini tri, dan ini sudah merupakan kewajiban bagi kita sebagai seorang muslimah untuk berjilbab. Alloh SWT pun sudah menjelaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 59:

“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu,anak perempuanmu, dan istri-istri orang mu’min. ” Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka” yang demikian itu agar mereka mudah dikenali, sehingga mereka tidak diganggu.Dan Alloh Maha Pengampun Maha Penyayang”

Rosulullohpun akan berbangga bila kita mengikuti anjurannya meneladani wanita-wanita yang terjanji disurga.” .

Kata-kata dari nisa seakan membisukan ku untuk tidak bisa mengelak lagi akan nikmat Alloh SWT ini, ingin rasanya aku bisa berjilbab seperti nisa, tapi aku merasa belum siap.
“kenapa kamu melontarkan pertanyaan itu tri”  keheranan nisa mulai terucap karena beberapa pertanyaan tadi.

“ aku ingin bisa berjilbab cha, tapi aku masih belum siap”

“  Alhamdulillahi Robbil Alamin...hal apa yang membuat kamu belum siap tri? “

“ aku belum siap dengan sikap,  kelkuanku yang seperti ini  dan aku belum siap dengan sikap temen-temen dan orang tua akupun pasti bakal ngerasa aneh bila aku memakai kerudung cha”

“ Kesiapan itu pasti akan kamu dapatkan seiring kamu mulai memakai jilbab trii, Hijabbi penampilan sesuai perintah illahi, inner beauty terpancar seiring terhijabinya hati. Engga trii,  insyaalloh orang tua kamu pasti akan sangat senang melihat kamu berjilbab  Karena  ayahhanda dan ibunda kita mengharap kita shalehah, meringankan timbangan amal agar kelak masuk Jannah”.

“ bakalan pantes gak yahh cha kalau aku pake kerudung?, kalau para lelaki dan temen-temen yang lain merasa aneh dengan aku berkerudung gimana cha?”  tegasku karena aku masih merasa belum yakin kalau semuanya akan baik-baik saja kalau aku hendak berjilbab.

“ Karena fitrahnya pria tetaplah lebih teduh melihatmu yang terhijabi bukan yang auratnya dibuka sana sini. Karena fitrahnya pria mengharapkan istri yang tak terjamah bukan yang bisa disentuh sana sini dengan mudah. Kamu tidak usah menghawatirkan akan hal itu trii, karena Alloh SWT pasti akan memberikan kemudahan bagi hambanya yang ingin memperbaiki dirinya untuk selalu bertaqwa dijalanNYA. Pokonya sekarang Sibukanlah dirimu dengan terus memperbaiki diri, karena ia yang yang tertakdirkan untukmu adalah cerminan dirimu sendiri.”

Semakin kuat keyakinan itu menyeruak , membuncah hingga aku mengambil sebuah kesimpulan

 “ Insyaalloh mulai sekarang aku ingin belajar istiqomah memakai jilbab cha”

“ alhamdulillahi robbil alamin..... aku sangat senang mendengarnya tri,. Insyaalloh pertolongan dan ampunan Alloh itu sangat dekat tri. Selangkah kita mendekatinya maka seribu langkah Alloh hendak mendekati kita”

“bantu aku ya cha,,,makasih udah ngingetin dan nyadarian aku. Berkat kamu membawa aku ke mesjid ini, seperti  ada yang beda dengan perasaan, dan Alloh SWT menuntun menuju keyakinanNYA ” dengan nada memelas aku memeluk nisa .

“Karena sudah sepantasnya sesama muslim kita harus saling mengingatkan tri, “

 “ sekali lagi makasih yaa cha, Nikmat Alloh sangat benar-benar terasa oleh ku malam ini dan Alloh memberikan jalanNYa itu melalui kamu”

Fabiayyi aala irobbiku maa tukadzibanMaka Nikmat Tuhanmu Yang Mana Yang kamu Dustakan”


Malam begitu larut dalam kegelapan yang disinari cahaya terang seakan membawaku dalam sebuah kebahagiaan dan keyakinan.
Yang ku lihat hanyalah harapan kehidupan yang Alloh SWT berikan pada sepenggal kisah perjuangan yang penuh kegigihan dan keyakinan.
Melalui seberkas cahaya yang dapat menyinari setiap manusia yang merindukan Rohman dan RohimNYA,,,

Dan Pagi mulai datang dengan kebersahajaannya........

Pagi itu kian bersenandung dalam nyanyian burung yang berdzikir tiada henti akan NimatNya yang tak terbendung. Pagi ini seperti biasa aku mulai bersiap-siap untuk berangkat ke kampus, hanya saja mulai hari ini aku akan mulai mengenakan Jilbab.

“ Bismillahirrohmanirrohim,,,,,,mudah-mudahan kau selalu memberikan kemudahan itu Ya Alloh...”

Sesampainya di kampus , orang-orang yang aku kenal ada yang merasa aneh melihatku berjilbab ada juga yang terkagum melihatku.

“ hahahaha,,,, si tri udah insyaf,,, paling beberapa hari lagi juga jilbabnya udah di copot lagi”

“ subhanalloh tri, kamu cantik banget memakai jilbab.mudah-mudahan semakin istiqomah ya tri. 

Perasaanku semakin tak menentu pagi itu, aku yang masih terombang ambing dengan pujian dan cemoohan yang mereka lontarkan terhadapku. Tanpa terasa adzan dzuhur sudah berkumandang, dan aku memutuskan untuk pergi ke mesjid untuk mencari ketenangan, menentramkan perasaan dan keyakinan yang masih terombang ambing ini.

“astri,,,,,,,”

Tiba-tiba terdengan seorang perempuan yang memanggilku dan itu arahnya dari belakangku, serentak akupun memalingkan badanku. Ternyata setelah kulihat itu adalah nisa yang sama-sama berjalan menuju mesjid.

“Subhanlloh,,, kamu cantik banget tri. Mudah-mudahan Alloh SWT selalu mengistiqomahkan hati kita dalam keyakinan dan ketqwaan di jalanNYa ya tri”

Jabatan tangannya pun mendarat di genggaman tanganku memberikan arti kebersamaan dan kesatuan langkah menuju surgaNYa.

“ tapi aku kadang masih merasa terombang ambing dengan semua pujian dan bahkan cemoohan yang orang lain tujukan terhadapku cha ”

“Alloh membuat sekenario kebahagiaan seterang mentari, tak boleh sampai lupa diri.
Alloh juga membuat sekenario sederas hujan, tak boleh sampe  buat keterpurukan.
Alloh membuat keduanya terjadi untuk membuat episode kehidupan kita berwarna secerah pelangi, trii...”

“subhanalloh,,,, makasih ya cha, dan apa yang kamu katakan itu benar-benar aku rasakan “

“Uhibbuki Fillah,,,,Bukan aku benar dan kau salah, tapi Maha benar Alloh dan kita bersama belajar untuk meraih Ridho dan Maghfirohnya.....”



Bandung, Oktober 2012
Originally Created by : Alvi Galvitri

Cerpen ini yang aku kirimkan buat ikutan lomaba menulis ceritanya,,,so bgT deh yaa kayanya, kaya yang pinter nulis cerpen aja,,( padahal kalau tulisan2ku yang lain baguss...PD bgt! PLaKK!!! ).
tapi mudah2an kedepannya bisa lebih baik lagi dehhhh ^_* . Amin Ya Robbal Alamin,,,



Tidak ada komentar:

Posting Komentar